Al-Islam, Pesantren Seribu Pintu Dengan Sembilan Keunikan

Pondok Al Islam merupakan Pondok Pesantren yang berada di desa Joresan Mlarak Ponorogo, Pondok ini berdiri pada tanggal 2 Mei 1966. yang didirikan oleh Ulama-ulama dan tokoh-tokoh NU di wilayah kecamatan Mlarak.
Memasuki usia lebih dari 50 tahun, santri di Pondok Al Islam mencapai 2200 santri, dan juga juga telah banyak sekali melahirkan ribuan alumni yang saat ini berjuang di pelosok tanah air sebagai ulama, pendidik, hakim,dosen, perangkat desa, dan penggerak masyarakat lainnya.

Namun demikian, setelah ditelaah lebih jauh tentang Pondok Al Islam, banyak keunikan keunikan yang terdapat di Pondok Pesantren Al Islam yang mungkin dan bahkan tidak ditemukan di Pondok-pondok Pesantren yang lain di Indonesia bahkan pondok-pondok besar di dunia.

Apa saja keunikannya? berikut ulasan 9 Keunikan Pondok Al Islam:

Pertama, Pada umumnya Pondok Pesantren di Nusantara, berdiri Pondok Pesantren terlebih dahulu,baru selang berapa lama mendirikan pendidikan formal, namun Pondok pesantren Al Islam berawal dari sebuah pendidikan formal lebih dulu, setelah berjalan kurang lebih 30 tahun baru menyatakan berdiri Pondok pesantren.

Kedua, Di pondok pondok pesantren pada umumnya ada tokoh sentral seorang “KYAI” sebagai top figur dalam aktifitas pondok, namun di Pondok Al Islam dipimpin oleh seorang direktur sebagai pimpinan Pondok yang dalam penyelenggaraan aktifitas Pondok didukung oleh lebih dari 30 Kyai.

Ketiga, Satu-satunya Pondok Pesantren NU yang belum tercatat dan belum diakui keberadaannya oleh Robithoh Maahid Islamiyah (organisasi pesantren NU), tapi keberadaan pondok Al Islam dibutuhkan oleh organisasi NU dan badan otonomnya…ini membuktikan Adalah Revolusi baru dibutuhkan bagi dunia pesantren nahdhiyah,titik tekannya adalah tawasuth dan i’tidalnya ala NU yang berusaha berdiri ditengah kemenag, modernisme Gontor dan salafiyah tradisionalis. Dalam hal ini Al Islam justru mempunyai nilai ajaran NU yang pokok meskipun belum terakui oleh Robithoh Maahid Islamiyah NU. Perbedaan fakta diatas menunjukkan secara kultural Pondok Al Islam diakuai sebagai Lembaga Pondok Pesantren milik NU, tapi secara Struktural belum sepenuhnya diakui oleh lembaga Pondoknya NU dan secara otonom merupakan ponokpesantren milik MWC NU Mlarak.

Keempat, Kebanyakan Pondok pesantren banyak bahkan semua santrinya bermukim di Pondok, namun di pondok Al Islam secara kuantitas hanya seperempat santrinya yang mukim,sedang tiga perempat santrinya merupakan santri “KALONG” yang setiap hari pergi dan pulang dari rumah masing-masing.

Kelima, Pondok Pesantren Al Islam unik dalam mengkombinasikan kurikulum pembelajaranya, kurikulum pemerintah, pondok salaf dan pondok modern dalam satu waktu belajar santri. Bukan memisahkan antara ketiganya, hal inilah cermin bahwa semua ilmu itu “simbiosis mutualisme” yang bisa dipadukan.

Keenam, bisa dikatakan merupakan satu-satunya pondok pesantren dengan status kepemilikan milik Umat, bukan pribadi. Adalah keajaiban dan berkah yang ternyata lembaga ini semakin maju dan semakin berkembang mencapai lebih setengah Abad walaupun tidak ada seorangpun yang merasa sebagai “pemilik sah” Pondok Al Islam.

Ketujuh, Perjuangan dan keikhlasan para Usatidz dan Ustadzat luar biasa dalam pengabdiannya dan tidak perlu diragukan,terbukti banyak guru walaupun dalam usianya yang sudah udzur dan tanpa adanya diskriminasi tugas pengabdian (walaupun ada sebagaian besar guru tanpa tunjangan dari pemerintah) tetap tekun dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.

Kedelapan, Pondok Al Islam adalah salah satu Pondok yang dalam pendidikanya berbasis kultural dan alam. Nuansa lingkungan pondok yang kental dengan iklim spiritual, menjadikan santri mendapat pengalaman langsung dari pelakunya, Lingkungan Pedesaan yang mengitari Pondok, menjadikan santri humanis dalam sikap dan tindakan. Tradisi “anggah-ungguh”, “tepo sliro” dan “andhap ashor” masih tetap eksis dan melekat dan merasuk dalam diri santri Al Islam.

Kesembilan, Sarana dan Prasarana mulai dari berdiri lembaga pendidikan Al Islam yang menyertai belajar siswa sampai sekarang banyak menempati rumah penduduk dan ruang-ruang daruat ternyata mampu melahirkan alumni profesional dan sukses mulai dari pengusaha, guru, dosen, kyai, ulama, hakim dan lainnya bahkan telah melahirkan banyak doktor dan profesor mengembang amanat umat dan almamater. Bakhan banyak yang menyatakan pondok Al Islam ini merupakan “PONDOK SERIBU PINTU” karena dari jalan manapun kita bisa masuk ke kelingkungan Pondok ini tanpa adanya pintu gerbang dan pagar yang membatasi pondok ini.

Dengan catatan ringkas ini semoga di HARI SANTRI NASIONAL INI kita mampu merefleksi kita bersama untuk menjadi SANRI YANG ROHMATAL LIL ALAMIN..
Wallohu ‘alam bisshowab…..

*Penulis adalah Santri tiga Zaman, alumni ‘92

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*