Keluarga Kedua

Setiap hari kita pasti berusaha menyuguhkan senyum termanis kita. Sampai suatu hari, ada ang berbeda dari salah satu wajah sahabatku, ya hari ini Eva tampak murung., senyumnya tidak muncul dari bibir manisnya, dia juga tampak lemas dan tidak bersemangat. Aku, Hanik, dan Rohmah mulai bingung dan resah, lalu ku beranikandiri untuk menyapanya. “Va?” panggilku. Tak ada jawaban dari mulut manisnya, ku coba lagi “Va? Ada apa?” tetap tak ada jawaban, kami bertiga khawatir, sedetik kemudian air matanya menetes, aku maki khawatir, ku coba lagi mengajakanya bicara “Va, ada apa denganmu? Bicaralah pada kami!”. Ia tetap pada pendiriannya tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Kemudian ia menyandarkan ke bahuku dan menangis, sepertinya ia tengah dirundung masalah. Tapi entahlah, kami juga nelum tau apa masalahnya, tapi Rohmah mencoba menenangkannya ”tenanglah Va, semua pasti ada jalan keluarnya. Jika kamu tidak membisu dalam kesendirianmu” ujarnya. Dan benar saja, sedetik kemudian ia mulai berucap “Tenanglah, aku tidak apa-apa, aku hanya ada sedikit masalah dalam keluargaku, aku hanya butuh teman untuk berbagi rasa” lirihnya. “kami selalu ada disini untuk menemanimu Va..” Hanik menimpali.

Perlahan Eva mulai mengahpus airu matanya, ia menatap wajah kami satu persatu, kemudian ia mulai mengembangakan senyum manisnya lalu sejenak kemudian kami berempat berpelukan bersama. Terharu dalam heningnya suasana. “Terimakasih sahabatku” ucap Eva. Semenjak saat itu kami pun mencoba untuk lebih terbuka diri satu sama lain. Sahabat yang tidak memandang sebelah mata atas kekurangan orang lain dan saling berjalan beriringan untuk mencapai tujuan dari sebuah persahabatan yaitu ketulusan.

 

***

BACA JUGA  Arti Sahabat

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*