Konsulatan Adalah Pendidikan

Latihan konsulatan, begitulah sebutannya. Meskipun istilah itu kurang tepat, namun lazim dipakai santri Al-islam Joresan untuk menyebut latihan baris berbaris dengan konsulat masing-masing. Lha wong sebenarnya frame latihan ini adalah baris berbaris kok disebut konsulatan? Hehehe. Tak apalah. Barangkali karena latihan baris berbaris ini dibagi berdasar asal wilayah santri ya. Jadi mereka lebih akrab menyebutnya dengan konsulatan.

“Kiri kanan… kiri… kanan…,’ teriakan itu terulang di sana-sana sini. Pemimpin pasukan memberikan aba-aba agar anggotanya berbaris rapi. Suara lantang yang bersahut-sahutan antara satu konsulat dengan konsulat lainnya. Begitulah suasana yang terjadi pagi itu di sekitaran lapangan dan jalan Mojorejo.

Pagi itu, kami menyempatkan diri mengambil gambar anak-anak saat latihan. Jarak yang lumayan jauh dari desa Joresan, tempat ma’had Al-Islam berdiri. Meski dulunya, kami juga mengalami saat-saat latihan seperti itu, namun saat sekarang menyusuri kembali jalan tersebut,kok  rasanya cukup jauh ya, meskipun kami mengendarai motor. Bagaimana halnya dengan santri-santri yang hanya berjalan kaki ke sana, berbaris lagi. Merasa capek dan jauh? mungkin dan tentu saja. Namun, mereka bisa menjalaninya dengan baik. Terbukti saat itu, meski matahari sudah beranjak tinggi, dengan sabar mereka menunggu urutan konsulatnya untuk secara berurutan kembali ke ma’had dengan berbaris lagi seperti sebelumnya. Padahal ada lebih dari 30 konsulat. Belum termasuk konsulat santri baru.

Sempat kami mengabadikan momen-momen, saat mereka duduk santai di tengah lapangan, beristirahat, sembari meluruskan kaki-kakinya yang mungkin penat karena latihan ini. Tertegun kami dibuatnya, melihat satu konsulat, entah konsulat mana. Saat banyak konsulat lain beristirahat, mereka justru latihan dengan penuh semangat. Meski kami yakin, kondisi mereka juga capek saat itu. Pemandangan ini tetap saja membuat kami tersadar akan semangat mereka, meskipun hampir-hampir dari tahun ke tahun pemandangan ini sama-sama saja.

Alhamdulillaah sekali, saat menyadari hal seperti ini, kami tahu dan paham jika mereka begitu luar biasa. Bagi anda yang belum tahu, mereka tidak diawasi asatidz lho saat itu. Cukup diwakili kakak pengurus organisasinya. Alhamdulillah, kaderisasi semacam itu masih berjalan dari dulu hingga kini.

Menuliskan bagian ini, kami teringat nilai-nilai kepempinan yang diturunkan pendiri-pendiri pondok kami. Ungkapan ringkas dan padat.“Sanggup dipimpin dan siap memimpin”. Semboyan yang sampai kini diwariskan secara turun temurun. Semboyan yang sebenarnya dimaksudkan untuk menanamkan nilai, bahwa untuk menjadi seorang pemimpin, seseorang harus belajar dari bawah dulu, baru setelah cukup, ia pun tak boleh diam di tempat, melainkan jika suatu saat diberikan amanah, dia siap juga untuk memimpin.

Barangkali, demi menanamkan semboyan ini, salah satu papan masuk Pondok Pesantren “Al-Islam” ditulis dengan jelas satu pertanyaan, “Apa yang kamu cari?”. Pertanyaan yang secara umum ditujukan untuk siapapun yang masuk di area Pondok Pesantren “Al-Islam”, apa niatnya masuk dan berada di sana? Apa motivasinya? Apa tujuannya? Pertanyaan itu pun dilanjutkan dengan jawaban yang sebenarnya menjadi konklusi dari pertanyaan itu sendiri, “sanggup dipimpin dan siap memimpin”. Mengarahkan pola pikir pembacanya, bahwa kedatangan mereka ke Pondok Pesantren “Al-Islam” tidaklah tepat jika ada motivasi lain selain menjadi “pembelajar”. Siap belajar untuk dipimpin dan siap belajar untuk memimpin. Seperti halnya santri-santri Pondok Pesantren “Al-Islam” yang saat ini begitu bersemangat mengikuti latihan konsulatan.

Ini hanyalah sekelumit catatan yang kami buat. Nilai-nilai ini hanyalah nilai kecil yang dapat kami lihat saat ini, dan kami yakin, ada banyak nilai yang ada di sana. Nilai-nilai yang akan diserap seluruh santri sebagai pendidikan nyata. Yang mengena dan mengesankan meskipun telah lama waktunya. Terbukti, kebanyakan alumni akan sangat terkesan mengingat momen-momen semacam ini. Bahkan tak jarang ada yang berujar, “pengen mbalek nek Joresan neh!”. Bukankah demikian halnya?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*