Merah Putih Penghantar Hidupku

“baiklah Dim kamu yang mengibarkan denganku saja kan nanti bendera merah putihnya kita perbanyak, agar terus berkibar di malam perjuangan.” . “okelah Fit, aku setuju”

Setelah selesai kami berdiskusi kami mengakhiri perjumpaan kami dengan kesepakatan akan membahas masalah ini besok kepada panitia inti. Siang ini benar-benar matahari tak mau mengalah hanya untuk sekedar membuat kami merasa teduh dibawah sinarnya yang terlalu menyala, kulihat Fitri mengusap hidungnya, seperti ada yang keluar dari hidung mungilnya. “ada apa, Fit?” tanyaku penasaran.

“Ndak ada apa-apa Dim, aku masuk dulu ya..daaa Dimas.” Kulihatnya berlari menuju toilet. Aku masih menatap tissue yang berdarah ditempat sampah tempat dia membuangnya tad. Hatiku berdesir ditangkap rasa keingintahuan yang sangat takut, kenapa ada rasa ketakutan yang tak tentu dihatiku seperti akan terjadi sesuatu, tapi aahh…aku langsung menepisnya. Dikamar biru, Fitri “Maafkan aku teman-teman, maafkan aku Imra, maafkan aku Dimas, aku takut kehilangan kalian. Maafkan aku…”

BACA JUGA  Keluarga Kedua

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*