No More Dream

“Sebenarnya maumu apa, Mina!” ayahku terlihat mencengkeram kerah baju ibu tiriku itu.

“Mauku kita cerai! Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri! Apa kau pernah sekali saja memperhatikan keluargamu, hah!”

“Apa kau bilang! Aku bekerja juga untuk keluarga! Kau saja yang tidak pecus menurusi anak-anak!”

Mereka terus saja beradu mulut. Minwo, adik tiriku masih sekolah, jadi ia tidak perlu tau kejadian seperti ini. Mereka menghentikan adu mulut mereka ketika aku berlalu dihadapan mereka. Saat aku sampai di kamar, terdengar suara mereka mulai bersaing lagi. Ck! Aku tak terlalu heran. Ini sudah makananku sehari-hari. Kupikir akan lebih baik jika mereka benar-benar pisah. Setidaknya telingaku tak panas lagi. Lebih baik sekarang aku ke tempat Shin. Itu lebih baik dari pada mendengar kicauan tak jelas itu.

Belum aku beranjak pergi, Minwoo tiba-tiba memasuki kamarku dengan menangis. Ia lalu berlari ke arahku dan memelukku.

BACA JUGA  Pesan Terakhir Dari Sahabat

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*