Pesan Terakhir Dari Sahabat

Bulan telah berganti tahun. Persahabatanku masih saja tetap seperti dulu. Kini tiba dimana aku untuk menerima pengumuman kelulusan Ujian Nasional. Saat-saat mendebarkan, dimana saat kepala sekolahku mengumumkan siapa juara pertama Ujian Nasional tahun ini di sekolahku. Saat pengumuman aku dan ummiku tak menyangka kalau aku mendapat peringkat pertama. Akupun tak percaya begitu pula ummiku. Wanita yang paling mengerti bagaimana hidupku. Dengan keadaan seperti ini aku tak lantas berbangga diri. Karena, aku yakin bahwa teman-teman yang berada di bawahku lebih besar semangatnya. “Selamat ya Dan….”, sebuah ucapan yang sangat indah dari sahabat kesayanganku dan kedua orang tuannya. Sampai sekarang ini, aku masih bingung di mana aku akan bersekolah. Apakah tetap bersama Syahla sahabatku, atau mengikuti permintaan ummiku. Disaat aku bimbang, Syahla selalu memberiku semangat. Ia selalu menyuruhku untuk sholat Istikhoroh. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti apa yang jadi permintaan ummiku untuk bersekolah di pondok pesantren. Sebuah keputusan yang bagiku sangat berat untukk meninggalkan Syahla. Namun, itu adalah pilihan yang terbaik. Syahla juga mendukung kalau aku sekolah di pondok pesantren.

Sudah sekian bulan aku tak bertemu Syahla. Rasa rindu pada sahabatku selalu menghantui mimpiku. Aku selalu ingin menemuinya. Tapi, apa boleh buat, aku tak boleh keluar dari Ma’had jika belum tiba masa liburan. Aku juga sangat rindu ummi. Hanya Reva lah yang menyemangatiku untuk tidak pulang dari ma’had. Ia adalah teman satu kamar denganku. Walau keluarganya jauh di luar pulau Jawa, ia tak pernah merasa ingin bertemu. Lama-lama aku juga merasakan apa yang dirasakan Reva.

BACA JUGA  Sahabat Selamanya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*