Refleksi Hari Santri Nasional

Tepat pada tanggal 22 Oktober seluruh Pondok Pesantren di Indonesia memperingati Hari Santri Nasional, mulai dari Apel Akbar sampai Kirab Santri, bahkan di beberapa Pesantren mewajibkan santrinya untuk memakai sarung. Moment ini diputuskan oleh Pemerintah lewat Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan Hari Santri Nasional. Dari Hari Santri ini kita mempunyai tiga pertanyaan yang bisa kita jadikan sebagai refleksi.

Pertama, Apa yang menjadi alasan bahwa tanggal 22 Oktober menjadi Hari Santri? Dasar dari Hari Santri merujuk kepada dikeluarkannya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama. Berisi tentang kecintaan kepada Tanah Air Indonesia sekaligus menyeru kepada seluruh elemen masyarakat untuk berjihad melawan penjajah. Dari Resolusi Jihad itulah muncul semboyan pemersatu Bangsa yakni “Hubbul Wathan minal Iman”.

Kedua, Apa yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut? Ada dua hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa tersebut. Pertama, sebagai santri kita harus terus memajukan Tanah Air yang telah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari kecintaan dan perjuangan Ulama-ulama terdahulu kita bisa merasakan ketenangan dan ketentraman dalam hidup.

Ketiga, peranan apa yang bisa diambil oleh Santri Zaman Now?

Dalam peranan ini santri akan dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan masanya. Pertama, santri pada zaman kemerdekaan. Peranannya memperjuangkan dan meraih kemerdekaan dengan mengangkat senjata melawan penjajah. Inilah generasi awal yang menancapkan pondasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua, santri Pasca kemerdekaan. Pada era ini santri dituntut bisa mempertahankan Kemerdekaan sekaligus membangun Pondasi yang telah ditancapkan oleh era sebelumnya. Peranan yang telah dilakukan seperti menjadi tameng ajaran Komunis yang sangat massif dan juga pemberantasan buta huruf yang masih sangat banyak di pelosok negeri. Ketiga, Santri Zaman Now. Pada era ini tantangan yang diemban sangatlah berbeda dengan santri pada zaman kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Pada zaman kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, tantangan yang dihadapi adalah musuh yang nyata dan bisa dilawan dengan fisik. Sedangkan untuk santri zaman now tantangannya adalah kemajuan teknologi yang tidak bisa dibendung.

Untuk santri zaman now harus bisa mengambil peran sebagai penyeimbang, yaitu harus tetap mengikuti kemajuan teknologi yang sangat cepat dan selalu memperkuat spirit religious. Buatlah inovasi-inovasi dan juga kreatifitas akan tetapi jangan sampai hati kita kosong akan ilmu agama. Dalam era now santri harus bisa punya nilai plus, karena selain bisa menciptakan Inovasi di bidang teknologi, juga bisa memperkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Sang Ilahi.

Selamat Hari Santri Nasional buat Santriwan-santriwati dan Alumni Pondok Pesantren Al-Islam Joresan, semoga kita bisa meneladani para pendiri Pondok Pesantren yang telah berjuang.

Alumni Al-Islam 2009

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*