Unexpected Ramadhan

Hyo Hwa kembali menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya, ia mendesah pelan melihat langit yang amat cerah kala itu. Kain selebar satu setengah meter kelabu yang menjuntai melindungi kepalanya itu melambai-lambai terhembus angin musim panas.

Juni ini menempati masa di mana para manusia menikmati libur musim panas yang panjang, bepergian ke pantai bersama keluarga atau kekasih.

Hyo Hwa melirik jam tangannya. Pukul tiga sore, itu artinya masih enam jam tiga puluh menit lagi adzan maghrib di masjid Central Seoul, satu-satunya masjid yang berdiri kokoh di daerah Itaewon, Seoul. Hari ini ia sudah berjanji pada Hwa Ram—saudara sepupunya untuk ikut membagikan makanan ringan setelah berbuka puasa di masjid dan jadilah ia mengitari pasar, membawa dua plastik besar penuh berisi kentang, perisa barbeque, tepung terigu, gula pasir, ragi, serta bubuk kayu manis.

Langkahnya terhenti ketika melihat seorang paman tengah menjual kacang-kacangan. Ia berbelok dan menaruh plastik di sisi kakinya, melihat-lihat jenis kacang apa yang diperdagangkan.

Senyum merekah di kedua sudut bibir Hyo Hwa. “Ahjusshi[1], tolong kacang tanah dua kilogram.” pintanya.

“Banyak sekali, Nona. Apakah ada pesta di rumah anda?” tanya paman itu seraya memasukkan kacang tanah ke dalam plastik bening, lalu menimbangnya.

Animnida[2]. Saya akan membuat Hoddeok sebagai cemilan di masjid.” jawabnya halus sambil menerima bungkusan kacang tanah lantas memasukkannya ke dalam plastik besarnya.

3 Comments

  1. Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
    “Mau makan apa, Mbak?”
    “Mau makan apa, Nona?”
    Afwan kalau ana yang salah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*