Siapakah Pendidik Di Pondok Pesantren Al Islam?

Mungkin terbersit dalam diri sebuah pertanyaan, “Siapakah Pendidik di Pondok Pesantren Al Islam Joresan?”. Pertanyaan yang kemudian merujuk pada proses panjang pendidikan di Pondok Pesantren Al Islam Joresan.

Untuk menjawabnya, kita kembali ke sejarah dulu. Di mana kesadaran berpendidikan sudah ditanamkan oleh para pendiri dan pendahulu. Khittah awal dari Pondok Pesantren Al Islam Joresan adalah 70% berorientasi pada pendidikan perilaku dan perubahan, sementara 30% pengajaran.

Tentu konsep di atas sangat selaras dengan mars madrasah yang senantiasa diperdengarkan dan diserukan bersama. “Sumber ilmu, amal, dan taqwa bagi putra dan putrinya” yang menggambarkan bahwa pondok pesantren Al Islam Joresan menganggap sumber ilmu, amal, dan taqwa sebagai tiga hal yang tak dapat dipisahkan.

Tujuan pendidikan tak sebatas memperoleh pengetahuan, namun harus dilanjutkan dengan implementasi ilmu pada amal salih. Terjadi perubahan dan perbaikan. Dan seluruhnya dibingkai dalam bentuk ta’abbud dan mahabbah kepada Allah SWT. Dari keseluruhannya diharapkan menjadi sebuah bentuk aktualisasi taqwa dalam kehidupan.

Tujuan di atas tentu membutuhkan proses menyeluruh dalam prosesnya. Antar satu bagian dengan bagian yang lainnya saling berkaitan. Saling mendukung. Saling mengisi. Inilah yang diharapkan para pendiri dan juga para masyayikh.

Untuk mewujudkan pendidikan menyeluruh tentu tidak mungkin bisa terlaksana dengan hanya mengandalkan asatidz saja. Yang paling ideal dan memungkinkan adalah kesadaran jiwa pendidik. Sebuah konsep kesadaran menyeluruh bahwa semua adalah pendidik. Konsep pendidikan holistik.

Sebuah kesadaran pendidikan menyeluruh telah menjadi bagian dari budaya pondok pesantren Al Islam. Setiap orang yang terlibat di dalamnya dianggap sebagai pendidik. Tidak peduli apa posisi atau jabatannya, baik itu direktur, wakil direktur, dewan Masyayikh, kepala madrasah, koordinator bagian, kepala koperasi, satpam, dan lainnya. Semua dianggap memiliki peran yang sama penting dalam mendidik para santri di pondok pesantren Al Islam.

BACA JUGA  Rangkaian Kegiatan Dan Refleksi Menuju Harlah Al-Islam Ke-57

Pendidikan di pondok pesantren Al Islam tidak hanya terbatas pada mata pelajaran agama, namun juga mencakup aspek sosial, emosional, dan intelektual. Oleh karena itu, kesadaran sebagai pendidik telah ditekankan sejak dulu, dan terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Ketika ada santri yang bertindak kurang tepat, maka tindakan yang diambil adalah mengingatkan secara langsung, siapapun yang saat itu melihatnya. Apakah saat itu tenaga kependidikan, ataukah satpam atau siapapun itu. Kesadaran seperti inilah yang dikembangkan. Menumbuh jiwa pendidik. Siapa pun elemen di pondok pesantren Al Islam dianggap sebagai agen pendidikan dan perubahan. Setiap individu di pondok pesantren tersebut diharapkan dapat memberikan pengaruh positif pada lingkungan sekitarnya, baik itu santri, staf, maupun masyarakat sekitar.

Pendekatan ini memberikan kontribusi positif pada pondok pesantren Al Islam. Dengan memandang setiap orang sebagai pendidik, maka setiap orang akan merasa memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik para santri. Hal ini juga membantu menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan saling mendukung.

Dengan demikian, siapapun elemen di pondok pesantren Al Islam dianggap sebagai pendidik. Kesadaran ini telah diterapkan sejak lama dan terus dipertahankan dan ditingkatkan. Pendekatan ini telah memberikan kontribusi positif pada pondok pesantren tersebut, menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan saling mendukung. Oleh karena itu, setiap individu di pondok pesantren Al Islam memiliki peran penting dalam mendidik para santri dan menciptakan perubahan positif pada masyarakat sekitar.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*