Munaqosah Imam Tahlil, Bilal, dan Khutbah Jum’at Asrama Putra

Salah satu semboyan di SMK yang menarik adalah “SMK Bisa!” atau banyak juga lembaga-lembaga lain yang memiliki semboyan yang senada dengan itu. “Bersama kita bisa” contohnya. Atau semboyan, “Bisa! Bisa! Bisa!” Atau “Maju! Unggul! Siap Pakai!” atau semboyan lain yang senada.

Nampaknya semuanya semboyan ini memang memberikan energi positif kepada pelakunya. Sehingga meskipun masing-masing santri itu sudah memiliki prinsip yang dipegang di dalam hati dan pikirannya, perlu adanya sebuah semboyan yang diaktualisasikan secara umum.

Santri pun ada baiknya menggunakan semboyan tertentu. Hanya saja perlu diwarnai dengan kalimat yang lebih pas. Agar muatan energinya lebih kuat dan menancap kuat di hati dan pikiran, misalnya saja, “Bismillah, Santri manfaat!”

Membekali santri dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat adalah sebuah keharusan bagi pondok pesantren. Di mana banyak program-program yang didesain agar santri-santri nantinya di masyarakat siap pakai dan bermanfaat.

Sudah maklum bahwa seseorang yang belajar di pondok pesantren dianggap memiliki banyak kemampuan yang siap pakai. Kepercayaan semacam ini bukanlah sebuah kebetulan. Itu artinya kepercayaan ini sebenarnya sudah terbangun sejak lama. Ini sebenarnya adalah celah yang bisa dimasuki santri-santri sebagai sarana dakwah.

Karena itulah, salah satu program yang diimplementasikan di Pondok Pesantren Al Islam Joresan khususnya di Asrama Putra adalah munaqosah imam tahlil, bilal, dan khotbah Jumat. Ketiganya sangat dibutuhkan di masyarakat kelak. Sehingga musabaqah ini pun diadakan dan dijadikan sebagai kegiatan rutin. Terus diadakan evaluasi dan perbaikan.

Dari kegiatan munaqosah imam tahlil, bilal, dan khotbah Jumat yang dilaksanakan oleh asrama putra Pondok Pesantren Al Islam, diharapkan santri-santri nantinya mendapatkan bekal serta memantapkan dirinya. Santri bisa terjun dan melangkahkan kakinya di tengah-tengah masyarakat dengan lebih mantap.

BACA JUGA  Tumbuhkan Cinta Rasulullah, Asrama Putra Gelar Peringatan Maulid

Kondisi masyarakat sosial yang sampai saat ini masih begitu random perlu diingat dan dijadikan sebagai catatan. Karena sudah “kadung” percaya kepada kualitas santri, bagi mereka asal santri artinya siap pakai. Ini kepercayaan yang bagus, namun harus diwaspadai dengan kesiapan yang sesuai.

Tak jarang santri yang kebetulan pulang karena adanya momen liburan harus “deg degan” sebab secara “dadakan” langsung ditunjuk untuk jadi imam tahlil, sekedar jadi bilal, atau yang agak ekstrim ya menjadi Khotib shalat Jum’at plus jadi imam.

Jika dalam kondisi “dadakan” seperti di atas santri-santri Al Islam mau dan mampu melaksanakan tugas dengan baik tentu ini menjadi sebuah “kelebihan” yang menjadi “catatan khusus” di mata masyarakat. Karenanya kegiatan-kegiatan seperti tahlil senantiasa diimplementasikan di berbagai kesempatan khususnya tahlil.

Bahkan untuk acara-acara evaluasi ke organisasian Santri yang kecil sekalipun minimal santri-santri diajak untuk hadiah Fatihah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan juga para pendiri. Atas izin Allah hal-hal seperti ini sudah dilaksanakan dan menjadi tradisi di pondok pesantren Al Islam.

Prinsip dan semangat yang sejak lama ada, “sanggup dipimpin dan siap memimpin” diharapkan bisa benar-benar dijiwai santri. Bukan persoalan kePDan maju yang berlebih. Namun memang sudah mendasari kesiapan dirinya secara ilmu dan keterampilan. Karenanya kegiatan musabaqoh seperti di Asrama Putra di atas dilaksanakan.

Diharapkan santri bisa mulai memahami kebutuhan di masyarakat seperti apa. Mengerti bahwa desain santri dalam gerak ahwalnya adalah bagian dari khidmat. Gerak ahwalnya adalah bagian dari dakwah. Santri-santri seringkali menjadi sorotan publik.

Karenanya bagi seorang santri yang ditunjuk masyarakat, meskipun mungkin kurang persiapan di tengah-tengah masyarakat, pantang baginya untuk menolak. Pantang bagi seorang santri untuk tidak melaksanakan. Saat itulah momentum dakwah telah terbangun. Momen yang tepat untuk menunjukkan eksistensi seorang santri. Bukan dalam rangka menunjukkan kemampuan diri, tapi lebih bagaimana santri bisa lebih dekat dan lebih bermanfaat.

BACA JUGA  Tak Hanya Pengetahuan Agama, Santri Pun Dibekali Ketrampilan Yang Bermanfaat

“Bismillah, Santri manfaat!”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*