Pagi merekah di langit Joresan,
mentari menyapa dengan cahaya keemasan.
Di halaman Pondok Pesantren Al-Islam Joresan,
santri berbaris rapi penuh kesiapan.
Pasca Pekan Perkenalan yang penuh makna,
langkah baru mulai diteguhkan kembali.
Bendera Merah Putih berkibar gagah di angkasa,
mengiringi tekad menuntut ilmu setinggi-tinggi.
Artikel Terkait
Upacara bukan sekadar rutinitas belaka,
bukan hanya barisan dan aba-aba.
Dan seakan hadir dari lorong sejarah,
Mayor Jenderal Zainul Arifin tampil penuh wibawa.
Panglima perang 10 November dari laskar Hizbullah, pejuang kemerdekaan, dan
Ketua Gerakan Pemuda Ansor pada zamannya.
Beliau seakan berpesan kepada para santri,
pewaris cita-cita ulama dan pahlawan negeri:
“Wahai anak-anakku, generasi harapan bangsa,
isi kemerdekaan dengan ilmu dan karya nyata.
Kemerdekaan ini ditebus dengan pengorbanan,
oleh darah, air mata, dan doa para pejuang.
Maka belajarlah dengan sungguh-sungguh,
agar kelak menjadi insan yang membawa kemajuan.
Disiplinlah dalam setiap amanah dan kewajiban,
teguhkan akhlak dalam setiap langkah kehidupan.
Karena perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata,
melainkan menegakkan ilmu, akhlak, dan pengabdian.”
Pesan itu bergema di hati para santri,
menguatkan tekad untuk terus berprestasi.
Menjadi pribadi yang berilmu dan berbudi,
serta siap mengabdi untuk agama dan negeri.
Maka pagi itu di Al-Islam Joresan,
langit menjadi saksi tekad yang diteguhkan.
Di bawah kibaran Merah Putih yang membanggakan,
terpatri janji untuk belajar, berjuang, dan mengabdi.
Demi agama, demi bangsa, demi kemuliaan umat,
santri Al-Islam melangkah dengan penuh keyakinan.
Meneruskan cita-cita para ulama dan pejuang,
menuju masa depan yang penuh keberkahan. (Zamroji)