Nano-nano Amaliyyah al Tadris

Pagi ini santri kelas VI Pondok Pesantren “Al-Islam” terlihat bergerombol di depan kantor. Bukan apa-apa, ternyata mereka persiapan masuk amaliyah hari pertama. Yah, hari ini, Rabu, 14 Februari 2018, adalah hari pertama amaliyah al-tadris 2018. Momen bersejarah bagi semua santri kelas VI.

Rasa manis, pahit, pedas dan asin bisa jadi satu dalam kegiatan ini. Ya iyalah, bagaimana bisa tidak. Mengajar dengan diawasi oleh seorang musyrif dan beberapa teman, di naqd (kritik) atas kesalahan dan kekurangan dalam mengajar. Kritikan itu bisa jadi evaluasi positif, tapi bagi yang belum terbiasa ya bisa berasa asam dan asin kritikannya. Hehehe.

Tiga dari sekian ratus santri kelas VI hari ini dipilih untuk lebih dulu “njajagi” ilmu mengajar yang sudah diberikan sebelumnya. Hasil amaliyah ini bisa menjadi evaluasi sekaligus “role model” praktek amaliyah santri lain di hari berikutnya. Pastinya, bagi yang mendapatkan “jatah” pertama ini rasanya wow. Katanya sih (penulis bukan yang pertama soalnya dulu. hehehe). Ndredeg pasti, keringetan jelas, grogi nggak usah ditanya lagi. Hehehe.

Sejatinya program ini dibuat untuk kaderisasi pendidik handal. Mengapa? Standar mengajarnya sudah sangat bagus. Mau mengajar harus ada i’dad, plan yang jelas, Bahkan kalau perlu harus ada wasail al-idhoh (perangkat pembelajaran) demi menunjang kesuksesan mengajar. Wah, kaya guru beneran ya? Memang iya. Ini dibuat sesuai standar lho. Hehehe.

Serunya amaliyah ini sampai saat ini masih menjadi momen paling “unik” dalam perjalanan santri “Al-Islam”. Dengannya mereka belajar menjadi guru yang baik, sekaligus murid yang baik. Inilah kaderisasi Pondok Pesantren “Al-Islam”.

Bagaimana pengalaman amaliyahmu dulu? Manis, asam, pedas ataukah asin? Hehehe. Semua adalah pembelajaran.

Berikut cuplikan gambarnya;

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*