Menulis Dengan Hati

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendampingi santri-santri mengikuti pelatihan menulis bersama Pak Tejo. Satu kesempatan bagus dan jarang bagi mereka. Sayangnya saat itu, saya hanya mendengarkan sekilas dari luar. Kebetulan ketemu dengan anak-anak bimbingan saya dulu, sehingga lebih memilih ngobrol dengan mereka. Yah, meski demikian beberapa semangat yang terucapkan oleh beliau dan saya dengar sekilas, saya coba serap dengan hati saya. Saya coba mengalibrasi maksud dan himmahnya. Dan berikut ini adalah sedikit dari apa yang saya dengar tersebut;

Pertama, menulis harus dari hati. Menulis harus dengan ketulusan. Begitu yang diwejangkan oleh pak Tejo. Dengan menulis dari hati, semua tidak akan berujung pada profit saja. Lebih pada bagaimana memberikan manfaat terbaik bagi sesama. Memberikan sumbangsih pemikiran yang mungkin saja akan bisa memberikan perubahan. Sesuatu yang keluar dari hati tentu akan memberikan dampak dan daya yang berbeda bagi pembaca.

Kalau kita melihat sejarah ulama dalam berkarya, selalu dan hampir terus begitu, mereka mengawali tulisan mereka dengan basmallah, tahmid dan sholawat. Satu bentuk pembersihan diri dari semua ego. Menyadari semua kekurangan diri yang nantinya tentu akan berpengaruh pada pola pemahaman dalam melahirkan karya tulis. Bersyukur atas semua nikmat ilmu dan menyadari bahwa semua itu adalah sebab keutamaan dari sisi-Nya. Bersholawat kepada penghulu kebaikan, Rasulullah yang telah membawa cahaya ilmu pengetahuan dan Islam kepada seluruh alam.

Dengan mengawali tulisan dari hati, seseorang akan terbiasa mengawali kebiasaan menulisnya bukan dengan metode. Karenanya, kata pak Tejo, metode itu bermacam-macam. Jika awalnya, seseorang mulai mengenal metode-metode yang bermacam-macam, barangkali ia bisa saja bingung. Oleh sebab itu, beliau menganjurkan mengawali tulisan dengan hati. Biarkan hati menuntun dengan sendirinya. Apapun bisa dituliskan dengan mood yang saat itu sedang berlangsung. Bisa berbentuk curhat, puisi, cerita, atau apapun yang bisa dituliskan.

Kedua, memiliki buku harian. Entah itu hanya difungsikan sebagai coretan saat ingin benar-benar menulis atau sekadar ingin berbagi atas pemikiran dan perasaannya. Bukan wujud buku hariannya yang ingin ditonjolkan, namun seberapa biasa kita menuliskan apa yang kita lihat dan kita dengar. Dengan membiasakan diri menuliskan apa yang menjadi pemikiran kita, hati dan tangan akan terbiasa untuk mengatur bagaimana menuangkan sebuah pemikiran dalam tulisan. Dengan begitu, alur tulisan pun akan semakin bagus. Membiasakan diri, itulah tujuannya.

Ketiga, tekad yang kuat. Pada kesempatan itu, Pak Tejo memberikan wejangannya, bahwa seorang santri haruslah menjadi seorang penulis yang memiliki tujuan spesifik. Tujuan yang jelas. Tujuan yang akan mengantarkannya menjadi seorang penulis yang dikenal dunia. Penulis yang pemikirannya tersebar dan menjadi inspirasi banyak orang. Sehingga, ilmu yang dikaruniakan Allah kepadanya, tak hanya menjadi permata bagi dirinya, melainkan juga menjadi cahaya bagi orang lain. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.

Bahkan pada kesempatan itu, beliau sempat melakukan “hypnowriting” bagi peserta pelatihan. Awalnya beliau meminta seluruh peserta menuliskan apapun (sesuai keinginan hatinya). Mengangkatnya tinggi dan membayangkan kesuksesan yang diinginkan, menghayatinya dan bersyukur karenanya. Melihat diri berada di puncak. Tak sedikit, dengan metodenya tersebut banyak peserta pelatihan yang menangis, larut dalam perasaan dibuatnya. Metode ini biasanya digunakan para hypnotherapis untuk membangun sugesti positif.

Sebenarnya, menurut kami, hal ini sebaiknya tak hanya dilakukan sekali saja, melainkan berkali-kali. Bahkan ada yang menganjurkannya untuk mengulang hingga minimal 21 kali. Dan inilah yang dianjurkan oleh pak Tejo. Mengulang saat di rumah jika memang bisa. Mengapa? Rata-rata seseorang membangun mindsetnya dengan pola-pola negatif. Dengan berkumpulnya mindset negatif berkali-kali, keberanian, langkah dan kemantapan diri dalam menulis menjadi semakin berkurang. Tentu ini akan berpengaruh pada bagaimana seseorang menjalani proses menulisnya. Latihan ini mungkin terlihat sepele, namun efektif untuk mengingatkan diri untuk selalu positif dan produktif dalam menulis.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*