📢 Informasi Penting: Pendaftaran Santri Baru Tahun 2025 telah ditutup. Nantikan pembukaan pendaftaran untuk Tahun 2026. Tetap ikuti informasi terbaru melalui website resmi dan media sosial Pondok Pesantren Al-Islam Joresan.

Joresan, Ponorogo — Besok, Jumat (15/8/2025), Pondok Pesantren Al-Islam Joresan akan dipenuhi suasana yang berbeda dari biasanya. Hari itu menjadi penjengukan pertama bagi santri Asrama Putra dan Asrama Putri, khususnya bagi santri Kelas 1 dan kelas intensif. Setelah 40 hari lamanya menjalani masa awal pembinaan tanpa bertemu keluarga, momen ini menjadi titik pertemuan kembali yang sarat haru, kasih, dan rindu.

Bagi para santri, masa 40 hari awal di pondok sebagai masa “mendhem jero ati”—masa penanaman jiwa dan pembiasaan hidup pesantren. Kepala Pengasuh Asrama Putra PP Al-Islam, Ustadz Ariful Huda, S.Pd, menuturkan bahwa masa ini memang penuh tantangan, namun juga sangat penting untuk membentuk kemandirian dan kedisiplinan.

“Masa ini bagi santri telah terlewati 40 hari ini. Maka, sesuai arahan Bapak Direktur, kami memberi kesempatan kepada santri dan keluarga untuk merajut rindu dan menumpahkannya dalam satu waktu,” ujar beliau.

Bagi sebagian santri, besok adalah hari yang mereka nantikan sejak awal masuk pondok. Abd. Azmi, salah satu santri Asrama Putra, menitipkan pesan hangat kepada keluarganya yang disampaikan lewat bahasa khas daerah, penuh kerinduan:

“Ibu, bapak, dek Zaira pripun kabare? Buk, betakno kabaretku kaleh pin penggalange. Pun niku mawon.”

Pesan sederhana namun mengandung makna dalam: ia ingin tahu kabar keluarga, berharap dibawakan kebutuhannya, dan di balik itu tersimpan tekad bulat untuk tetap teguh menuntut ilmu di pondok meski rasa rindu begitu membuncah.

Tidak kalah menggemaskan, kisah dari Asrama Putri datang dari santriwati bernama Alfia Zahra. Ia bahkan membuat daftar panjang peralatan yang harus dibawakan keluarganya saat penjengukan. Uniknya, daftar itu diakhiri dengan pesan dalam huruf kapital yang mengharukan:

“OH YA 1 KELUARGA IKUT SEMUA DAN AYAH SEMOGA BISA IKUT.”

Pesan itu mencerminkan bahwa meski banyak kebutuhan yang ingin dipenuhi, kehadiran ayah tetap menjadi hal terpenting bagi putrinya, seorang ayah tetap menjadi pahlawan dalam hidupnya.

Besok, halaman pondok akan menjadi saksi pertemuan yang sarat pelukan, senyum, bahkan air mata. Bukan sekadar bertukar kabar dan barang bawaan, tetapi menguatkan tekad baik santri maupun orang tua untuk terus melangkah di jalan ilmu. Dalam momen singkat itu, rindu akan terobati, doa akan terucap, dan semangat akan kembali mengalir untuk melanjutkan hari-hari penuh perjuangan di pesantren.