Saat Anak Membuat Jengkel, Sabar atau Ikhlas?

Dalam proses mendidik anak, tentu saja sebagai orang tua pernah mengalami kejadian yang membuat mereka marah kepada anak-anaknya. Tak hanya sekali atau dua kali mungkin. Namun bagaimana respon orang tua terhadap kejadian ini biasanya akan sangat mempengaruhinya dalam sikapnya mendidik anak.

Sebagai contoh saat si anak menurut orang tua bertindak yang menurutnya “sangat menjengkelkan”, tentu saja orang tua akan “sangat marah”. Kemarahan ini biasanya akan berlanjut kepada tindakan dan kepercayaannya kepada si anak di kemudian hari. Orang tua akan mengecap anaknya adalah anak yang menjengkelkan, tidak bisa diatur, tidak bisa dipercaya dan lainnya. Ini terwujud dalam tindakannya yang cenderung tidak percaya kepada si anak, walaupun si anak berusaha dengan niat baik meyakinkan.

Yang kita lihat sebenarnya ada beberapa hal;

  1. Orang tua sementara waktu bersabar atas kejadian yang membuatnya jengkel, namun belum bisa mengikhlaskan. Sehingga memorinya masih saja terdapat “angker” yang memhubungkan secara spesifik atas kejadian tersebut. Sehingga seberapapun besar usaha anak memperoleh kepercayaan kembali dari orang tua, terkadang akan sangat sulit. Kapanpun orang tua melihat si anak, terkadang ingatannya kembali kepada kejadian di masa lalu.
  2. Orang tua dengan justifikasinya mengecapnya anaknya dengan label “anak nakal, tidak bisa dipercaya, sulit diatur, dll”. Secara psikologis orang tua sudah menutup pikirannya untuk menerima kebaikan dari si anak. Mengapa? karena seseorang tidak akan bisa fokus pada dua hal. Jika orang tua fokus pada kebaikan dan percaya pada si anak, maka semua kejelekannya “seakan” tak terlihat. Sebaliknya, saat orang tua fokus pada kejelekan, kebaikan besarnya dari si anak terkadang “tertutup”.
  3. Orang tua belum membuka diri dan memberikan kepercayaannya kepada si anak. Jika kepercayaan sudah dibuka, maka caranya berbicara, caranya merespon si anak, caranya mendidik pun akan dengan sendirinya menjadi lebih baik.
  4. Kesadaran orang tua juga perlu dibuka, sehingga ia juga menyadari bahwa setiap anak bahkan setiap orang pernah melakukan kesalahan. Barangkali kejadian yang menimpa si anak adalah proses pembelajaran hidup yang harus dia jalani. Maka sebagai orang tua semestinyalah untuk membimbing dan memberikan support. Kesadaran ini semestinya dibangun, karena proses pembelajaran diri itu senantiasa berlanjut setiap saat, bahkan seumur hidup.

 

Lalu apa yang mesti dilakukan untuk merespon kejadian semacam itu?

Dalam konsep terapi EFT, yang perlu dilakukan pertama adalah mengikhlaskan kejadian tersebut. Ikhlas karena kejadian tersebut sudah terjadi. Bersabar? tentu saja, namun kondisi hati harus ikhlas, bukan dengan menahan emosi yang akhirnya justru membuat kesehatannya tidak seimbang,

Lakukan fokus untuk memperbaiki keadaan dengan mengajak anak berkomunikasi.

Ikhlas, Ikhlas, dan ikhlas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*