Merespon IT Sebagai Instrumen Kesuksesan Pendidikan

Beberapa orang menganggap bahwa adanya IT justru menghambat sebuah karya seseorang. Alhasil beberapa orang merasa ogah dan merasa cukup kuat menjalani secara manual. Pengen serba natural dan original hasil jerih payahnya sendiri. Dan merasa ini kebakuan sebuah proses.

Namun dalam proses yang terjadi apakah ini sebenarnya sebuah langkah yang benar dengan menolak berkembangnya IT atau memanfaatkan? Tentu hal terbaiknya adalah memanfaatkan IT untuk berbagai macam keperluan.

Hanya saja menggunakan IT diperlukan sebuah prinsip. “Almuhaafadzoh ‘alal qodiim Al shalib wal akhdu bil jadidil aslah.” Prinsip yang harus dimengerti dan difahami harus tetap dipegang teguh, namun hal baru yang memang diperlukan bisa dimanfaatkan dengan baik.

Bepergian ke Mekkah tentu jika masih “ngeyel” naik kapal laut butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai ke sana. Namun, beda halnya jika menggunakan teknologi. Naik pesawat misalnya, akan ada puluhan hari bisa dikurangi dan bahkan hanya butuh waktu beberapa jam saja.

Berkomunikasi dengan menggunakan surat menyurat seperti dulu, butuh beberapa hari pesan bisa sampai. Namun sekarang hal ini sudah tidak efektif lagi. Memanfaatkan email, WhatsApp dan lainnya adalah pilihan terbaiknya. Namun bagi yang merasa harus “original”, tidak salah. Ini justru akan menyulitkan.

Dalam dunia pendidikan sekarang banyak sekali memanfaatkan IT untuk mempercepat pelaksanaan dan efektivitas kerja. Salah satu contohnya adalah memanfaatkan IT untuk pembayaran santri. Selain waktu pembayaran dan konfirmasi yang real-time, ada kemudahan lain yang bisa diterima. Seperti keamanan, transaksi yang cepat, bisa dibayarkan dari mana saja, dan mudah dalam rekap pembayaran.

Pembuatan quiz, salah satu situs quiz telah merilis AI dalam proses pembuatannya. Tentu yang dulunya manual sekarang jadi otomatis. Yang dulunya lama sekarang jadi lebih cepat. Apakah ini kemudian jadi sebuah “kemanjaan” bagi guru sehingga jadi malas berkarya? Tentu saja tidak.

BACA JUGA  Urgensitas Keseimbangan IT Dan Akhlaq Bagi Santri

Yang penting prinsip dasar dari sebuah proses tetap harus dimengerti. Ini akan menjadi sebuah “percepatan” dalam proses. Jika hanya mengandalkan sebuah tools tanpa disadari ilmu, tentu ini adalah sebuah langkah yang membahayakan atau bahkan “kebodohan”. Namun bagi yang sudah faham IT, penggunaan sebuah tools adalah hal yang dianjurkan bahkan mungkin wajib.

Karena sekarang ini banyak aplikasi bermunculan di dunia pendidikan seperti rapot digital, aplikasi tim tertib, aplikasi PPDB, atau aplikasi pembayaran. Apakah ini berarti dunia pendidikan telah bergantung pada tools atau IT? Tentu saja ini sebuah kecerdasan. Memanfaatkan IT untuk menunjang keberhasilan proses. Ini adalah bentuk merespon modernitas.

Rapot yang dulunya manual tulis tangan, sekarang telah berubah menjadi rapot hasil cetak digital. Apakah ini bentuk tindakan bijaksana? Tentu saja ini bentuk kecerdasan dan ketanggapan pada IT. Bentuk tindakan yang bijaksana dalam merespon teknologi dan memanfaatkan untuk kemaslahatan.

Dalam proses pembelajaran seorang ustadz harus mulai mengenal IT. Mulai mengerti bagaimana memudahkan proses pembelajaran dengan cara yang terbaik. Melancarkan proses pembelajaran dengan membuat percepatan pembelajaran.

Belajar sejarah dengan hanya bercerita tentu akan kurang bisa dimengerti. Santri pun kadang ngantuk dibuatnya. Seorang ustadz yang mengajar sejarah dan memanfaatkan IT, bisa saja dia menggunakan proyektor untuk menampilkan video. Audio yang bagus bisa menunjang kegiatan ini. Dan santri pun lebih mudah menerima pelajaran.

Dari proses itu saja, proyektor, laptop, listrik, audio player adalah produk hasil teknologi. Termasuk alat lainnya yang dimanfaatkan dalam proses.

Apakah ustadz yang demikian ini menyalahi aturan? Tentu saja ini justru sebuah langkah yang baik. Tuntutan zaman dan perubahan.

Memanfaatkan IT adalah sebuah keharusan. Namun sekali lagi harus bijaksana. Kemudahan dengan adanya IT bukan dimaksudkan untuk ditolak dan ditinggalkan, tapi justru untuk dimanfaatkan dengan baik dan bijaksana. Orang yang cerdas bukan berarti orang yang anti IT, tapi justru yang memanfaatkannya dengan baik.

BACA JUGA  Kembangkan Pola Berpikir Positif, Larang Santri Bawa Novel

Kesimpulannya, memanfaatkan IT adalah sebuah langkah bijaksana dan cerdas untuk membuat percepatan, khususnya dalam pembelajaran. Dan seorang ustadz dengan kondisi zaman dengan teknologi yang semakin berkembang mau tidak mau harus mulai mengenal dan memanfaatkan IT.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*