Joresan, 22 Juli 2025 — Salah satu materi penting dalam rangkaian Pekan Perkenalan (PP) Pondok Pesantren Al-Islam Joresan Tahun Pelajaran 2025–2026 adalah Moderasi Beragama. Materi ini disampaikan oleh Ustadzah Zayyini Rusyda Mustarsyidah, M.Pd., yang dikenal sebagai salah satu pendidik putri dengan latar belakang akademik dan pemahaman keagamaan yang kuat.
Dalam pemaparannya, Ustadzah Zayyini menjelaskan bahwa moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama secara adil, seimbang, dan tidak ekstrem, baik ke kanan maupun ke kiri. “Moderasi bukan berarti melemahkan keyakinan, tapi menempatkan agama sesuai porsinya, menghindari sikap berlebih-lebihan yang justru bisa merusak citra Islam,” ujarnya.
Artikel Terkait

Mengapa Harus Moderasi Beragama?
Beliau menekankan bahwa di tengah kemajemukan bangsa Indonesia, sikap moderat menjadi kunci menjaga kerukunan antarumat beragama. Santri sebagai generasi penerus ulama dan tokoh masyarakat harus memahami pentingnya bersikap bijak dan adil dalam beragama. “Moderasi adalah jalan tengah, bukan kompromi dalam akidah, tapi cara hidup berdampingan dalam perbedaan,” tegasnya.
Indikator dan Sembilan Kata Kunci Moderasi
Ustadzah Zayyini juga mengurai indikator moderasi beragama, yakni: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap budaya lokal selama tidak bertentangan dengan syariat.
Lebih lanjut, beliau memperkenalkan Sembilan Kata Kunci Moderasi Beragama sebagai bekal santri:
- Adil
- Seimbang
- Toleran
- Musyawarah
- Anti-kekerasan
- Cinta Tanah Air
- Komitmen Kebangsaan
- Penghargaan terhadap budaya lokal
- Rahmatan lil ‘alamin
“Kesembilan kata ini menjadi karakter dasar seorang santri moderat. Dengan ini, santri bisa menyebarkan Islam yang damai dan menyejukkan,” tutur beliau.

Cybercrime dan Adab Digital
Selain pembahasan tentang moderasi beragama, Ustadzah Zayyini juga mengangkat isu cybercrime yang rawan terjadi di kalangan remaja dan santri. Ia mengingatkan agar santri waspada dalam penggunaan media sosial dan tidak menyebarkan informasi bohong (hoaks), ujaran kebencian, maupun konten negatif lainnya.
Terkait komunikasi digital, Ustadzah Zayyini menekankan pentingnya adab saat chatingan, baik dengan guru maupun sesama santri. Beberapa poin penting yang disampaikan antara lain:
- Menggunakan bahasa yang sopan dan jelas saat menghubungi guru.
- Menghindari percakapan tidak penting atau di luar keperluan belajar.
- Tidak mengirim pesan di luar waktu yang wajar, kecuali mendesak.
- Menjaga etika ketika berkirim pesan dengan lawan jenis, serta menghindari komunikasi yang bersifat pribadi atau melanggar batas syar’i.
Materi ini mendapat perhatian serius dari para santri baru. Banyak dari mereka mencatat dengan antusias dan mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab. Harapannya, pembekalan ini tidak hanya menjadi wawasan kognitif, tetapi juga membentuk karakter santri yang santun, bijak, dan mampu menjadi duta Islam yang rahmatan lil ‘alamin di era digital.
Dengan pembinaan seperti ini, PP Al-Islam Joresan terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi santri yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga relevan dengan tantangan zaman.