Mengenal NLP Dan Kalam Ilmu Nahwu

NLP Dan Kalam Ilmu Nahwu

Apa itu NLP?

Bagian dari ilmu yang sangat penting namun jarang diajarkan di sekolah adalah ilmu pengelolaan pikiran. Salah satu cabang ilmu ini adalah NLP. NLP adalah singkatan dari neuro language programming. Ilmu yang membahas tentang bagaimana seseorang mengubah struktur kalimat yang ia ucapkan untuk pelan-pelan mengarahkan bahwa sadarnya agar lebih berdaya.

NLP membahas bagaimana seseorang itu bisa mempengaruhi dirinya sendiri atau mungkin juga orang lain dari sisi penerimaan pikiran. Dari bagaimana seseorang merespon sebuah kalimat dengan pikirannya, diharapkan nantinya bisa mempengaruhi bawah sadarnya. Sehingga bisa lebih melakukan perubahan atau memberdayakan diri dengan lebih mudah.

Sayangnya ilmu NLP ini cenderung dibungkus dengan teori-teori psikologi dari kaum sekularis, sehingga arah dari pemikiran NLP ini terkadang diwarnai dasar-dasar pemikiran yang logis namun agak jauh dari sisi spiritual. Karenanya beberapa orang yang notabene dulunya pesantren beberapa merasa kurang cocok dan ada yang kemudian mengadaptasinya menjadi lebih kental dengan nuansa islami.

Sayangnya ilmu-ilmu seperti ini di pondok pesantren tidak di show up secara terang-terangan sehingga terkesan di Pesantren ilmu semacam NLP itu tidak ada. Padahal sejatinya ilmu NLP yang ada di pesantren itu jauh lebih efektif dan sudah ada sejak dulu. Hanya saja mereka tidak menamainya secara spesifik atau kemudian mengembangkan jenis ilmu ini secara lebih terperinci.

Ilmu Nahwu, Ilmu Tasawwuf, dan Ilmu Mantiq

Ilmu sejenis NLP yang sebenarnya bisa dikatakan merupakan bagian atau sejenis darinya adalah ilmu pengelolaan kata atau kalam. Salah satu cabang ilmu yang dikenalkan di pesantren adalah ilmu nahwu. Bagian dari ilmu Nahwu membahas tentang kalam. Walaupun sebenarnya ilmu ini lebih membahas kepada bagaimana sebuah struktur kalimat dalam bahasa Arab itu disusun, namun secara kontekstual ada pemaknaan yang tersimpan di dalam definisi kalam itu sendiri.

Beberapa tradisi keilmuan yang ada dipesantren lainnya yang sudah sebenarnya melampaui NLP adalah ilmu tasawwuf. Ilmu ini juga menganjurkan siapapun menjaga sikapnya, khususnya kalam. Bahkan dalam Ihya’ Ulumiddin, ada bab panjang yang secara khusus membahas bahaya lisan. Ini pun masih soal bagaimana kalam seseorang menjadi mufid (bermanfaat). Manfaat dalam makna yang sebenarnya.

Masih berkaitan dengan sempurnanya kalam seseorang. Kalimat yang diucapkan seseorang tak lain adalah wujud ekspresi dan reaksi atas kejadian atau kalam yang disampaikan kepadanya. Kesempurnaan kalam juga cara berpikir seseorang kemudian menyusun kalimat sangat dipengaruhi tingkat bagaimana seseorang memberikan definisi atas sesuatu. Ilmu mantiq adalah spesifikasi ilmu yang tepat untuk bisa memberikan sudut dan cara pandang lebih tepat dalam melihat, memaknai, mendeskripsikan, atau bahkan mengungkapkan sesuatu dalam bentuk susunan kata/kalam.

BACA JUGA  Kesan dan Pesan Hanik Mahliatussikah, Alumni 1992 Dengan Segudang Prestasi

Kerennya ketiga ilmu di atas diajarkan di Pondok Pesantren Al-Islam. Meskipun mungkin ranah yang dikenalkan adalah pada tahap dasar. Namun hal ini akan mampu memberikan bekal yang cukup melalui pendekatan teoritis di usia santri yang masih cukup muda. Sehingga ini akan merangsang pemikiran dan daya nalarnya ke depannya.

Kemufidan Kalam

Kalam dalam ilmu nahwu seringkali di mana dengan lafadz yang memberikan faedah. Jadi seseorang dikatakan kalamnya sempurna, atau dikatakan pembicaraannya sempurna, apabila apa yang dia katakan itu memberikan faedah. Meski pemaknaan secara umum faedah yang dimaksud adalah bisa dipahami.

Kalau kita melihat pengertian kalam yang ada di kitab alfiyah, syekh Ibnu Aqil menggunakan istilah Mufid. Secara makna Mufid ini menggunakan struktur isim fa’il. Isim fa’il berarti aktif melakukan pekerjaan. Artinya perkataan seseorang itu yang baik adalah perkataan yang apabila diucapkan secara lisan bisa memberikan faedah kepada orang lain atau dirinya sendiri. Baik itu faedah yang berupa orang lain menjadi semangat, atau dirinya menjadi lebih tenang karena maksud dan tujuannya tercapai, dan lain sebagainya.

Kalimat yang dia ucapkan seakan-akan hidup dan berjalan. Menyusup ke sel-sel pikiran pendengarnya, memberikan pengaruh baik, dan bersinegis dengan daya nalar positifnya. Kalimatnya seakan-akan hidup. Memberikan pengaruh pada sikap dan perilaku yang lebih baik. Kalimatnya seakan-akan hidup seperti fa’il yang memberikan atsar pada sebuah kejadian.

Bertolak belakang dengan kalimat yang mufid, apabila perkataan seseorang disampaikan kepada orang lain dengan maksud menyakiti hatinya, kalam yang diucapkan ini sebenarnya secara ilmu nahwu bisa dikatakan Mufid. Namun secara kemanfaatan, kalamnya ini tidaklah sempurna.

Belajar Dari Abu Nawas

Berikut ini adalah salah satu contoh bagaimana memanfaatkan kalam agar lebih Mufid dan bisa memberikan faedah kepada orang lain. Menggunakan kemampuan akal dengan daya nalar mantiq. Dan membungkus kejadian dengan syukur secara taswwuf. Kebenaran dari anekdot ini mungkin belum bisa dipertanggungjawabkan secara referensial. Namun dari sisi hikmah dibalik kisahnya tentu sangat disarankan untuk dibaca.

Suatu saat Abu Nawas dicari oleh seorang laki-laki. Seperti biasanya dia mencari di tempat-tempat di mana bernama sering terlihat. Namun kali ini dia sepertinya gagal menemukan di mana Abu Nawas saat itu. Di tempat-tempat yang sering terlihat Abu Nawas nongkrong dan ngobrol bersama teman-temannya juga tidak ditemukan.

BACA JUGA  Tradisi Hadiyah Fatihah Dan Sikap Tawadhu

Walhasil beberapa teman Abu Nawas mencoba menanyakan apa sebenarnya permasalahannya sehingga mencari Abu Nawas dengan sedemikian sungguh-sungguhnya. Akhirnya orang tadi mencoba menceritakan kepada teman-teman Abu Nawas dengan harapan menemukan titik temu akan bermasalahnya.

“Rumahku sempit, anak-anakku banyak, dengan kondisi rumah yang begitu sempit rasanya begitu sesak dan menyiksa,” kata orang tadi kepada teman-teman Abu Nawas.

Namun pada akhirnya mereka semuanya tidak mampu memberikan solusi dan hanya bisa menggeleng-geleng kepala.

Akhirnya teman-teman Abu Nawas menyarankannya untuk menemuinya di rumahnya saja.

Orang tersebut kemudian pergi ke rumah Abu Nawas dan pada saat itu Abu Nawas sedang membaca Al-Qur’an. Selang beberapa saat, Abu Nawas menemuinya dan menanyakan perihal permasalahan yang dihadapi.

Setelah mendengarkan uraian permasalahan dari orang tadi Abu Nawas pun menanyakan kepadanya. “Apakah kamu memiliki anak unta?” tanya Abu Nawas.

“Tidak tapi aku mampu membelinya,” jawabnya.

“Baiklah kalau begitu belilah anak unta dan tempatkanlah di salah satu sudut rumahmu,” kata Abu Nawas menyarankan.

Tanpa berpikir orang tadi pun kembali pulang ke rumah dan melaksanakan apa yang disarankan Abu Nawas. Dia pun pergi ke pasar hewan, membeli seekor anak unta dan menempatkannya di salah satu sudut rumahnya.

Setelah beberapa hari orang tadi kembali menemui Abu Nawas dan mengeluhkan betapa lebih sempit rumahnya sekarang.

Ia pun mengatakan kepada Abu Nawas, “Wahai Abu Nawas saya sudah melaksanakan apa yang kamu sarankan kemarin namun yang terjadi adalah rumahku sekarang terasa jauh lebih sempit daripada sebelumnya.”

Abu Nawas tidak langsung menjelaskan atau menjawab, alih-alih dia malah justru bertanya kembali, “Apakah kamu punya seekor kambing?”

“Tidak tetapi aku mampu membelinya,” jawab orang tadi.

“Baiklah sekarang pulanglah dan belilah seekor kambing dan tempatkanlah di salah satu sudut rumahmu,” kata Abu Nawas menyarankan.

Orang itu pun kembali melaksanakan sarana Abu Nawas. Membeli seekor anak kambing dan menempatkan di salah satu sudut rumahnya. Kini rumahnya terasa begitu sesak dan jauh lebih sesak daripada sebelumnya. Bau kotoran anak unta dan kotoran kambing menyatu memenuhi seluruh ruangan.

Satu minggu kemudian ia pun kembali ke tempat Abu Nawas dan mengeluhkan permasalahannya justru semakin kompleks. Anak-anak dan istrinya mulai mengeluh dan lebih mengeluh lagi dengan keadaan yang mereka alami.

BACA JUGA  Peran Penting Orang Tua Dalam Perkembangan Pendidikan Santri

“Wahai Abu Nawas keluargaku semakin tersiksa dan rumahku terasa semakin sempit,” kata orang tersebut.

“Apakah kamu memiliki beberapa ekor unggas di rumahmu,” tanya Abu Nawas

“Tidak namun aku mampu membelinya,” kata orang itu.

Ia pun pulang dan segera melaksanakan apa yang diperintahkan Abu Nawas meskipun dipikirannya ia mulai ragu terhadap saran yang diberikan Abu Nawas. Ia membeli beberapa ekor unggas dan menempatkan di salah satu sudut rumahnya.

Seminggu kemudian ia kembali ke tempat Abu Nawas dan mengatakan bahwa rumahnya sekarang benar-benar sempit. Dia dan keluarganya merasa sangat tersiksa atas keadaan yang sekarang. Bagaimana mereka harus hidup bersamaan dengan beberapa ekor hewan di dalam rumah yang sempit.

Abu Nawas pun menyarankan,“ Baiklah, juallah unggas unggasmu sekarang!”

Orang itu pun dengan senang hati menjual unggas-unggasnya.

Setelah beberapa hari dia kembali menemui Abu Nawas dan menyatakan bahwa dia dan keluarganya merasakan rumahnya terasa lebih luas sekarang.

Abu nawaspun tersenyum dan kemudian menyarankan kembali. “Sekarang juallah kambingmu!”

Dengan senang hati orang itu pun menjual kambingnya.

Beberapa hari ia pun kembali dan terlihat lebih bahagia sekarang. Ia mengatakan bahwa keluarganya sudah merasakan rumahnya terasa lebih luas, terasa lebih nyaman dan terasa lebih bahagia.

Abu Nawas pun kembali berkata, “Baiklah sekarang juallah anak unta!”

Orang itu pun kembali melaksanakan sarana Abu Nawas. Beberapa hari setelahnya ia kembali menemui Abu Nawas dan mengatakan bahwa ia, anak, dan istrinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Rumah yang mareka tinggali kini menjadi terasa sangat luas. Mereka merasakan lebih nyaman dan lebih bahagia sekarang. Mereka merasakan kelegaan karena anak unta dan kambing juga unggas unggas yang selama ini bersama mereka telah hilang dari rumah mereka.

Dengan penuh keheranan orang ini pun bertanya kepada Abu Nawas,“Bagaimana bisa Saya merasakan kebahagiaan dan kesedihan di tempat yang sama?”

Abu Nawas pun menjelaskan, “Ketahuilah bahwa batas sempit dan pikiran hanya dipikiran manusia. Saat seseorang bisa melihat segala sesuatunya dengan lebih luas, maka dia akan merasakan kebahagiaan. Namun apabila orang itu memenuhi pikirannya dengan segala kekurangan, maka dia akan menemukan kesempitan di sekitarnya. Dan ketahuilah bahwa seseorang yang meminta kepada Allah mungkin saat itu tidak langsung diberikan, namun ketiadaan seseorang diberi pada saat itu dengan digerakkannya seseorang untuk mau meminta kepada Allah adalah pemberian yang sebenarnya.”

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*