“Kakak! Ayah dan Ibu bertengkar! Hiks!” isakannya semakin menjadi-jadi. Hashhh…
“Lebih baik kau ikut kakak!” jawabku sambil menyingkirkan pelukan kecilnya.
Artikel Terkait
“Kemana?”
“Sudah, ikut saja! Dari pada kau di rumah dan melihat kedua orang tuamu berkicau!” Minwoo memicingkan matanya sebentar.
“Baiklah. Minwoo ganti pakaian dulu.” Ia lalu berlalu dari hadapanku menuju kamarnya.
Aku hanya kasihan jika ia akan frustasi sepertiku karena tekanan dari mereka.
*****
Aku harus membiarkan tubuhku memar dengan pukulan dari rotan lagi. Aku memang senang mereka telah berpisah sejak sebulan yang lalu. Tapi, jika seperti ini, rasanya aku akan mati di rumahku sendiri.
Ayahku menjadi temperamental. Meski ia jarang dirumah, karena kesibukan pekerjaannya, ia selalu memukuliku. Entah dimatanya hanya pekerjaan saja. Bahkan aku, anaknyapun tidak ada artinya untuknya. Ayah, hah! Apakah seperti ini seorang ayah?
“Jika nilaimu tak juga membaik, ak tidak akan menyekolahkanmu lagi!”
‘Arghh…’ rintihku dalam hati.
Heem….