“Ayo! Bunuh saja sekalian. Itu lebih baik dari pada aku harus mati perlahan dengan kau siksa seperti ini..” raut wajahnya mulai berubah. Ia urungkan tangannya yang tadi ingin ia hantamkan kepadaku. Aku berlalu dari hadapannya dengan mataku yang panas. Bukan hanya mataku yang panas. Perasaanku lebih panas lagi. Keadaanku benar-benar miris. Aku, benar-benar lelah dengan semua ini.
*****
Artikel Terkait
Kepalaku masih terasa pening setelah beberapa botol minuman beralkohol ku tenggak. Entah ini terjadi sejak kapan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Jym menghampiriku. Jym adalah ketua Kuga Genk di sekolah. Sebuah genk yang terkesan nakal dan di takuti banyak siswa. Tapi bagiku mereka baik. Setidaknya mereka menganggapku sebagai bagian dari mereka. Ya, aku bergabung dengan genk itu. Aku bisa leluasa meluapkan emosi yang ada pada diriku. Ini terjadi beberapa waktu lalu. Aku tau ini kelewatan. Tapi biarlah, biarkan diriku merasa lebih baik terlebih dahulu.
“Hey bocah! Sudah berapa botol yang kau tenggak, hah?” Jym menghampiriku yang hampir tak berdaya.
“Apa aku sudah mati, Jym…” kata itu keluar dari mulutku begitu saja.
“Kupikir kau semakin parah, Chan!” Jym kemudian setengah menyeretku ke sebuah tempat yang bisa ku gunakan untuk merebahkan tubuhku. Setelahnya aku tak tau apa yang terjadi.
*****
Heem….