“Kau itu hanya bersekolah saja tidak pecus! Apa yang ada didalam otak bodohmu itu, hah!” ia masih terus memukulku. Aku hanya berbicara melalui air mataku yang semenjak tadi tak sanggup ku tahan.
“Aku tidak mau mengakuimu sebagai anakku lagi jika kau bodoh!!”
Artikel Terkait
“Ini semua bukan salahku…” ucapku pelan namun cukup jelas.
“Apa katamu? Bukan salahmu? Kau pikir siapa yang salah, hah!”
“Kau yang salah..”
“Katakan sekali lagi!” kali ini tangan kekarnya mengangkat daguku. Pandangannya seperti hendak menelanku mentah-mentah saat itu juga.
“Kau yang salah!! Apa kau pernah sekali saja mendatangi pertemuan di sekolah?! Apa kau pernah sekali saja hadir dalam acaraku di sekolah?! Apa kau pernah sekali saja mendengar penjelasanku tentang sekolahku?! Apa kau pernah menanyakan padaku tentang prestasiku?! Apa kau pernah tau apa saja prestasiku di sekolah? Bahkan aku tak yakin kau tau kelas berapa aku sekarang…” emosiku tak bisa ku tahan, dan isakanku semakin menjadi. Aku payah. Bagaimana bisa seorang Chan Hiraga menangis seperti ini.
“Kau!!” tangan kekarnya kali ini ia arahkan ke wajahku.
Heem….