“Ta-tapi, agama Jong Woon ber..beda, Noona…,” suaranya tercekat di akhir. Takut harapannya runtuh untuk dapat makan enak, teokbokki yang ia curi tadi pun jatuh.
Hyo Hwa tertegun, lalu menyunggingkan senyum ceria. “Tak apa, Woonie. Boleh saja kau masuk ke masjid asal tidak merusak atau mengganggu yang sedang ibadah,” jelas Hyo Hwa kembali berjalan masuk ke sana. Mereka duduk di teras.
Artikel Terkait
Hyo Hwa kembali dengan sepiring nasi dan ayam goreng serta teh hangat, menemani Jong Woon yang kelihatan semangat makan.
“Jadi…, namamu Jong Woon?” tanyanya mencoba lebih dekat.
Anak itu mengangguk menatap Hyo Hwa dengan mulut penuh. Piringnya sudah setengah penuh habis. “Jong Woon. Kim Jong Woon.”
Hyo Hwa tertawa ringan. “Kenapa sendirian? Tersesat, ya? Nanti Noona bantu mencari orang tuamu,” tawarnya mengelus rambut Jong Woon lagi, lembut sekali, pikirnya.
Jong Woon menuntaskan makannya yang masih sedikit tersisa, ia sudah kenyang dan Hyo Hwa menyingkirkan piring, kembali pada Jong Woon yang terdiam menunduk dalam, anak itu menangis dalam diam. Hyo Hwa kembali dibuat bingung. Ia rasa ia tidak salah, malah menawarkan bantuan.
Jong Woon mendongak, tak ada lagi air mata, ia tersenyum. “Appa wa Eomma[12] sudah di pangkuan Tuhan. Jong Woon sudah berjanji jadi anak baik, tapi tadi aku kabur dari rumah bibi karena beliau menyiksaku dan aku juga mencuri. Mianhae…”
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀