Hwa Ram mengangguk. “Nanti harus diaduk lagi. Kalau begitu, ayo sholat ashar dan setelahnya jangan harap kau berhasil kabur. Kau harus memperbaiki bacaan tilawahmu, aku tak mau dengar omelan suamimu, tahu?”
“Tapi, Eonni—,” Hyo Hwa langsung bungkam begitu melihat Hwa Ram yang meninggalkannya masuk masjid. Ia mendesah pelan, bibirnya mengerucut. Wanita itu tak ikut masuk masjid.
Artikel Terkait
Sepuluh menit setelahnya…
“Hyo-ya![7]” seru Hwa Ram dengan langkah cepat menghampiri Hyo Hwa yang sedang mengupas kulit kentang. “Kau tak shalat ashar dan membatalkan puasamu di pojokan masjid?” ia berkacang pinggang. Tadi sempat dilihatnya Hyo Hwa berjalan ke sudut dan mendekatkan tangannya ke mulut. Seperti sedang makan.
Hyo Hwa mengernyit terganggu dengan nada bicara Hwa Ram. “Jangan marah, ini bulan puasa,” ucapnya kalem, tak mau membangun emosi.
“Aku sedang udzhur. Sudah tiga hari. Aku tadi cuma mau mencium bau perisa makanan untuk Hwaeori Gamja di sudut masjid, tak enak kalau terang-terangan di hadapan orang yang puasa dan ternyata enak.” lanjutnya dengan mengangkat tiga jari kanan di depan wajah Hwa Ram dan nyengir.
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀