Hwa Ram terus mondar-mandir di depan tenda masak di bagian belakang masjid, banyak ibu-ibu di sana yang tengah sibuk memasak berbagai macam hidangan untuk berbuka puasa dalam jumlah besar. Ia sendiri tengah menunggu Hyo Hwa yang tak segera kembali dari pasar.
“Argh! Seberapa jauhnya pasar dengan masjid, sih? Awas saja kau, Hyo!” gerutu wanita dua puluh delapan tahun itu dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Artikel Terkait
“Eonni![4]” teriak Hyo Hwa dari kejauhan, larinya terlihat lucu karena membawa dua kantung besar. Sesaat sampai di depan Hwa Ram, ia menyerahkan semua belanjaannya, lalu tangannya bertumpu pada kedua lutut, napasnya putus-putus dan pendek.
Hwa Ram masih dengan tatapan mengintimidasi meninggalkan Hyo Hwa, menaruh dua kantung besar di atas meja. Kemudian mengeluarkan beragam bahan untuk membuat Hweori Gamja dan Hoddeok.
“Eonni, mianhae… jeongmal mianhae[5], tadi ahjusshi penjual kacang itu mengajakku berbincang. Jadi aku tak salah, ‘kan?” Hyo Hwa ikut menata bahan-bahan tersebut.
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀