Junchul mengangguk pasti disusul Hyo Hwa.
“Kami belum dikaruniai seorang anak dan Hyo Hwa ingin sekali kau tinggal bersama kami. Maukah, nak? Jika tak ingin menganggap kami orang tua, anggaplah kami sebagai kakakmu, nak.” pintanya ulang.
Artikel Terkait
Sepasang netra hitam tersebut bergerak liar. “A-Aku tak tahu, Hyung. Tapi, akan kucoba,” ia mengulas senyum malu-malu, menubrukkan tubuh mengilnya dalam rengkuhan sepasang suami-istri ini.
Dirinya merasa seolah kembali merasa terlindungi dalam rengkuhan hangat Junchul, merasakan kembali pelukan orang tua.
Hyo Hwa meledak, ia menangis, menitikkan air mata bahagia, haru. Mencium Jong Woon berkali-kali, “Alhamdulillah!! Terima kasih, Allah.. terima kasih…”
Junchul ikut bahagia, mereka memang belum dipasrahkan untuk memiliki seorang anak dari rahim istrinya, dokter mengatakan kalau rahim Hyo Hwa lemah semenjak kegugurannya yang kedua. Ia ingat betapa depresi istrinya kala itu, bahkan sampai ke titik terendah.
Dan sekarang ia senang sekali, melihat dari Hyo Hwa yang menceritakan keinginannya dan bagaimana manisnya Jong Woon selama mereka berbincang. Ia setuju saja asal Hyo Hwa mau membimbing Jong Woon dan tak melupakan suaminya—candanya tadi, dibalas pukulan ‘sayang’ di lengannya.
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀