“Baiklah. Ini dia, satu cup tteokbokki dan satu bungeoppang untuk Hyunnie yang tampan. Ucapkan apa setelah diberi sesuatu?” tanya Hwa Ram yang telah mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu.
Hyunnie mendekap jajanannya. “Gamsahamnida[10], Noona. Saranghaeyo[11].”
Artikel Terkait
Satu kecupan di pipi Hwa Ram ditinggalkan Hyunnie yang langsung berlari menjauh, menubruk ibunya.
“Ehem, dapat pernyataan cinta dan ciuman di malam Ramadhan, bukankah itu keren?” goda Hyo Hwa yang sekilas melirik kakak sepupunya.
Hwa Ram tertawa. “Salahkan wajahku yang terlampau cantik ini.” Ia terkekeh.
***
Jong Woon terus mengintip dari balik pohon, meneguk air liurnya saat melihat berbagai jajanan gratis di depan bangunan besar itu, bangunan ibadah yang pernah dikatakan ibunya saat ia bertanya dulu.
Tanpa sadar ia telah berdiri tak jauh dari sana, agak mengendap bersembunyi, tangan kanan mungilnya menyentuh dan mengusap perut kosongnya. Bocah tujuh tahun tersebut berkaca-kaca, ingin sekali menghampiri tapi malu. Dia takut ditolak karena perbedaan agama.
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀