📢 Informasi Penting: Pendaftaran Santri Baru Tahun 2025 telah ditutup. Nantikan pembukaan pendaftaran untuk Tahun 2026. Tetap ikuti informasi terbaru melalui website resmi dan media sosial Pondok Pesantren Al-Islam Joresan.

“Baiklah. Ini dia, satu cup tteokbokki dan satu bungeoppang untuk Hyunnie yang tampan. Ucapkan apa setelah diberi sesuatu?” tanya Hwa Ram yang telah mensejajarkan tubuhnya dengan bocah kecil itu.

Hyunnie mendekap jajanannya. “Gamsahamnida[10], Noona. Saranghaeyo[11].”

Created by Iwan Suryanto | Mediatama Tech

Artikel Terkait

Satu kecupan di pipi Hwa Ram ditinggalkan Hyunnie yang langsung berlari menjauh, menubruk ibunya.

“Ehem, dapat pernyataan cinta dan ciuman di malam Ramadhan, bukankah itu keren?” goda Hyo Hwa yang sekilas melirik kakak sepupunya.

Hwa Ram tertawa. “Salahkan wajahku yang terlampau cantik ini.” Ia terkekeh.

***

Jong Woon terus mengintip dari balik pohon, meneguk air liurnya saat melihat berbagai jajanan gratis di depan bangunan besar itu, bangunan ibadah yang pernah dikatakan ibunya saat ia bertanya dulu.

Tanpa sadar ia telah berdiri tak jauh dari sana, agak mengendap bersembunyi, tangan kanan mungilnya menyentuh dan mengusap perut kosongnya. Bocah tujuh tahun tersebut berkaca-kaca, ingin sekali menghampiri tapi malu. Dia takut ditolak karena perbedaan agama.