Ia bungkam, melihat orang dewasa yang menggendongnya telah berhenti dan sempat membentaknya dengan mata melotot membuatnya takut, teringat wajah bibinya. Lalu, bendungan air di pelupuk mata itu telah mengalir lembut di kedua pipi gembil Jong Woon. Ia sesegukan.
Hyo Hwa merasa bersalah, membenamkan wajah bocah itu di pundaknya, mengelus surai hitam legam, sedikit lega saat kedua tangan mungil Jong Woon melingkari lehernya. “Stt.. maafkan aku.. maafkan aku, sayang…”
Artikel Terkait
Cukup lama ia mendiamkan pencuri kecil tadi hingga sekarang mereka duduk di tangga ke dua belas. Suara perut kosong masuk ke dalam pendengaran Hyo Hwa, sedikit menjauhkan badan, melihat bocah di pangkuannya menunduk dengan semu merah di kedua pipinya, cukup membuat ia faham permasalahan mereka.
“Jadi, ayo kita makan, semoga masih ada makanan di dalam,” ajak Hyo Hwa seraya berdiri, menuntun Jong Woon masuk ke dalam masjid, siapa tahu ada sebagian makanan tersisa.
Jong Woon mengerjap gembira di balik matanya yang sembab namun sesaat kemudian pandangannya meredup, bocah itu mendadak berhenti.
“A-apakah boleh Jong Woon masuk ke sana?” tanyanya gugup.
Hyo Hwa menaikkan satu alisnya, “Tentu saja! Ada apa?”
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀