Terlintas sebuah ide. Ia tahu ini salah dan Tuhan akan marah padanya, juga ayah dan ibunya yang sekarang telah tiada. Tapi bagaimana dengan dirinya yang kelaparan? Ia masih ingin hidup. Baru tadi pagi ia kabur dari ‘rumah neraka’ bibinya yang kejam dengan tangan kosong. Bersumpah takkan kembali untuk menerima siksaan fisik atau batin. Toh bibinya tak akan mencarinya, mungkin beliau senang dengan kepergian Jong Woon.
Ia mencoba menerobos banyak anak-anak yang mengerubungi tenda kecil itu. Termangu, jajanan lezat sedang menunggunya.
Artikel Terkait
Matanya menyapu sekitar. Anak sebaya dia sibuk memilih jajan, orang dewasa juga sibuk dengan mereka. Tangan kanannya bergerak perlahan, mata sipit itu tetap awas, berhasil! Satu cup tteokbokki sudah ada di genggaman, menyalurkan ke tangan kiri.
Hyo Hwa yang sudah tak melayani anak-anak terkaget, ia mencengkram lengan Jong Woon yang akan mengambil hoddeok.
Jong Woon terbelalak. Ia ketahuan tengah mencuri.
“Lepaskan aku!” bentak Jong Woon, tak sadar menarik perhatian sekitar.
Hyo Hwa buru-buru keluar dari sana, membawa Jong Woon yang berontak bruntal dalam gendongannya dan berteriak, membuat Hyo Hwa sedikit kesulitan.
“Diamlah!” wanita itu ganti membentak Jong Woon.
Afwan, itu kata ‘nona’ bukannya diawali dengan huruf kapital, ya? Karena itu bentuk sapaan dengan orang kedua yang diajak bicara.
“Mau makan apa, Mbak?”
“Mau makan apa, Nona?”
Afwan kalau ana yang salah.
Terima kasih atas masukannya…. akan kami teliti ulang untuk itu…
Syukron 😀
Sudah kami perbaiki 😀